SISI GUNUNG SAWAL

IDENTITAS FAUNA JAWA BARATFigur macan tutul memiliki arti historis yang besar bagi masyarakat Jawa Barat, karenanya hewan ini layak dijadikan ikon fauna daerah ini. Ironisnya keberadaan macan tutul jusru terancam karena ulah manusia di daerah Jawa Barat yang sering merusak habitat dan memburu hewan ini untuk kepentingan komersial.

Seiring waktu jumlah kucing besar di Indonesia khususnya di Jawa Barat berkurang terus menerus. Dari berbagai spesies yang dulu ada, beberapa telah punah sepertih alnya harimau lodaya (Panthera tigris sondaicus) Beberapa yang masih dapat dijumpai diantaranya adalah macan tutul (Panthera pardus sondaicus), itu pun jumlahnya sudah jauh berkurang sehingga hewan ini kini berstatus langka atau terancam punah.


BIOLOGI MACAN TUTUL

Macan tutul dikenal dengan nama latin Phantera pardus Fauna dari keluarga Felidae ini berbentuk kucing besar. Panjang tubuhnya sekitar 1-2 meter dengan berat badan 30-70 kg. Ciri khas menonjol dari hewan ini adalah corak pada kulitnya yang berwarna kuning / oranye dengan bintik-bintik hitam berpola rossete atau kotak di hampir seluruh bagian tubuh.

Macan tutul dapat kawin sepanjang tahun Dalam 1 tahun macan tutul dapat melahirkan 2-3 ekor anak, tetapi tingkat kematian anak di alam juga tinggi. Macan tutul dan kucing besar lain umumnya karnivora. Hewan ini biasa memangsa monyet, kera, rusa, dan mamalia lain. Macan tutul biasa bersembunyi di semak-semak sebelum menyergap mangsa dan menggigit bagian leher korbannya. Teknik berburu seperti ini efektif untuk melumpuhkan mangsa dengan cepat. Biasanya macan tutul membawa mangsanya ke atas pohon untuk dihabiskan.

HABITAT DAN SEBARAN
Macan tutul hidup di hutan-hutan yang masih alami dan padang rumput. Keberadaan macan tutul sangat dipengaruhi jumlah makanan dan kondisi alam untuk kamuflase dalam berburu atau melindungi diri. Secara global, macan tutul tersebar di banyak daerah yang meliputi wilayah Asia dan Afrika. Besarnya sebaran macan tutul ini menimbulkan variasi genetis dan morfologis pada tiap subspesiesnya. Di Indonesia, macan tutul hanya terdapat di pulau Jawa. Saat ini di Jawa Barat, macan tutul masih dapat dijumpai di kawasan:

1. Gunung Salak
2. Taman Nasional Gunung Halimun
3. Taman Nasional Gunung Gede Pangranggo
4. Hutan Sancang
5. Gunung Patuha Ciwidey
6. Cagar Alam Gunung Simpang Cianjur
7. Cagar Alam Gunung Tilu Cianjur


NILAI PENTING

Selain menjadi faktor penyeimbang ekosistem dalam rantai makanan di habitatnya, macan tutul memiliki arti historis bagi masyarakat Jawa Barat. Sejak dahulu macan tutul telah dijadikan ikon kegagahan kerajaan Pajajaran. Masyarakat Sunda kuno percaya bahwa macan tutul adalah penjelmaan leluhurnya.

Karena arti historis yang kental ini dan keberadaannya yang masih ditemukan saat ini, macan tutul layak dijadikan logo fauna bagi masyarakat JawaBarat.


ANCAMAN

Setiap harinya luas hutan di Jawa Barat berkurang karena pembukaan lahan untuk pemukiman dan pertanian. Konversi lahan ini menyebabkan kerusakan dan penyempitan pada habitat asli macan tutul. Macan tutul terancam akibat perubahan kondisi fisik lingkungan dan berkurangnya jumlah makanan (hewan yang dimakan juga terganggu habitatnya).

Perburuan liar juga mengancam keberlangsungan hidup populasi macan tutul yang tersisa. Macan tutul diburu untuk diambil kulitnya sebagai hiasan atau kebutuhan mode. Di beberapa tempat tulang macan tutul juga diambil karena dipercaya dapat dijadikan obat.

Perdagangan ilegal macan tutul hidup-hidup juga berlangsung di kawasan Asia. Seringkali perdagangan dilakukan dalam skala multinasional.

Masyarakat juga sering menangkap dan membunuh hewan ini dengan alasan sering mengganggu ternak dan memakan manusia. Hal ini memang bisa terjadi namun hanya bila habitat macan tutul terganggu hingga tidak ada makanan yang bisa ditemukan.

Macan tutul dilindungi oleh Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 dan Pasal 21 Ayat (2) huruf a Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang menyatakan bahwa orang yang menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan macan tutul dapat dikenakan hukuman maksimal 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

dikutip dari http://www.bplhdjabar.go.id/current-issue.cfm?doc_id=466

Catatan: Dalam S.K. ini tidak disebutkan bahwa Macan Tutul juga terdapat di Gn. Sawal. Mungkin karena para juru bisik di gubernuran saat itu kurang nitenan pendapat para ahli terkait.

// <![CDATA[//

Harimau Terkam 10 Kambing Warga Cikarag Resah

Ciamis, Priangan. Masyarakat Dusun Cikarag Desa/Kec. Sadananya, Kabupaten Ciamis kini resah menyusul matinya 10 ekor domba milik warga setempat yang diduga akibat terkaman seekor harimau, Menurut warga, ke-10 kambing tersebut mati mengenaskan, Bagian anus dan dada domba robek sehingga organ dalamnya terburai keluar. Anehnya, bagian hati domba-domba tersebut saja yang dimakan.

Peristiwa matinya 10 ekor domba tersebut terjadi pada hari Minggu (19/10). Namun hingga kini masih tetap jadi bahan pembicaraan. Warga takut hewan penyerang domba yang diduga harimau itu akhirnya menyerang manusia. "Nembe ayeuan aya domba nu dipaehan jeung dihakan atina wungkul," kata salah seorang warga Cikarag, Senin (20/10) kemarin seraya mengatakan, harimau itu menerkam domba pada malam hari sekitar pukul 02.00. "Sakaligus 10 domba sapeuting eta teh," tambahnya.

Kepala Desa Sadananya H. Gandar Herdiana mengatakan domba-domba yang diterkam harimau itu merupakan bantuan pemerintah melalui program karya produktif." Setelah ada kejadian itu, kami beserta masyarakat berusaha menangkap harimau itu. Untuk itu kami minta bantuan BKSDA dan instansi lainnya," ujar Gandar, senin kemarin. K-18.

Dikutip dari SK Priangan, Selasa 21 Oktober 2008 Hal. 1

Catatan:
1. Ada inkonsistensi antara judul dengan isi berita. Pada judul disebutkan "...10 kambing...", namun pada tubuh berita disebutkan sebagai "...10 Domba..". Tentu saja kambing dan domba (embe) berbeda, walau sama-sama 'ngaberele' (mengembik)!

2. Pada judul juga disebut "Harimau". Saya fikir bukan harimau (Maung), tapi macan kumbang (Leopard, Pantera pardus). Karena secara ilmiah, keberadaan harimau di pulau Jawa (Harimau Jawa, Panthera tigris) dianggap sudah punah. Sedangkan macan, kemungkinan masih ada. Apalagi mengingat kawasan Sadananya berada di bawah kawasan Suaka Margastawa Gunung Sawal, yang diketahui di kawasan tersebut merupakan habitat alami Macan Kumbang atau Macan Tutul (Panthera pardus). Perlu diketahui, Macan Kumbang yang berwarna hitam kelam mirip 'ucing garong' adalah jenis yang sama dengan Macan Tutul yang berbulu kuning keemasan dengan bintik-bintik hitam di sekujur tubuhnya. Menurut ahli biologi, perbedaan warna dan corak bulu tersebut mungkin merupakan variasi genetik. Namun kesalahan yang berkembang di masyarakat awam adalah menganggap bahwa macan kumbang dan macan tutul adalah jenis yang berbeda.

3. Sebagai tambahan, macan tutul adalah satwa yang dilindungi. Pemerintah Propinsi Jawa Barat bahkan menetapkan Macan Tutul sebagai satwa khas daerah Jawa Barat.

// <![CDATA[//

Pesona Elang Jawa (Spizaetus bartelsi Stresemann, 1924) di SM Gn. Sawal

Oleh : Ardi Andono, STP1

Indonesia sebagai salah satu pusat mega biodiversitas dunia, memiliki kekayaan alam berupa hutan tropis yang besar di dunia seluas 120,35 juta atau sekitar 63 % luas daratan Indonesia dan keaneka ragaman hayati yang tinggi. Keanekaragaman hayatinya berupa adanya 47 tipe ekosistem alami mulai dari padang rumput, batu karang, gambut dan hutan mangrove dan kekayaan flora dan faunanya. Kekayaan flora dan faunanya terdiri dari 27.500 species tumbuhan berbunga (10 % dari seluruh tumbuhan berbunga dunia), 1539 sepecies reptil dan amphibi (16 % dari seluruh reptil dan amphib dunia), 12 % jenis mamalia dunia, 17 % jenis burung dunia, 25 % jenis ikan dunia dan 15 % jenis serangga dunia2.

Selain itu Indonesia memiliki 1539 jenis burung atau sekitar 17 % dari jumlah seluruh jenis burung di dunia dan 381 jenis diantaranya merupakan jenis endemik Indonesia. Dilihat dari total jenis Indonesia menduduki urutan ke lima negara-negara kaya akan jenis burung setelah Kolombia, Peru, Brazil dan Equador, namun dari segi endemisitas dan jumlah jenis sebaran terbatas peringkat Indonesia melonjak menjadi urutan pertama3.

Di Indonesia terdapat sekitar 72 jenis burung pemangsa (raptor) yang terdiri dari 3 famili yaitu Pandionidae, Acciptridae dan Falconidae. Di antara jenis tersebut 15 jenis merupakan jenis endemik Indonesia4 sedangkan yang terancam punah teradapat 3 jenis yaitu Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) dengan katagori keterancaman genting, Elang Irian (Harpyopsis novaeguineae) dan Elang Sulawesi (Spizaetus lanceolatus) dengan katagori keterancaman Rentan (Vulnerable).

Elang Jawa adalah legenda hidup mengingat bentuk fisiknya sesuai atau mendekati dengan Burung Garuda sebagai lambang negara kita. Ciri fisik tersebut adalah adanya jambul yang tegak dan cukup panjang di kepalanya sedangkan badan berwarna coklat yang kontras, dan mungkin juga dengan ciri fisik ini justru Elang Jawa semakin diburu oleh pedagang illegal maupun penggemar satwa langka dan eksotik. Kelangkaan Elang Jawa ini mengharuskan Pemerintah untuk melindunginya dengan Undang-undang dan Peraturan Pemerintah, seperti UU No.5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistimnya, PP No.7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, serta Kepres No.4 tahun 1993; tentang Flora Fauna Nasional yang menetapkan Elang Jawa sebagai Satwa Kebanggaan Nasional (hebat bukan?).

Dan yang tidak kalah hebatnya ternyata Suaka Margasatwa (SM) Gn Sawal yang berada di Kabupaten Ciamis ternyata memiliki potensi yang besar tentang adanya Elang Jawa, berdasarkan hasil penelitian dari YPAL (Yayasan Pribumi Alam Lestari) dan Himbio UNPAD (Himpunan Mahasiswa Biologi Universitas Pajajaran) tahun 1998 menyatakan telah melihat Elang Jawa, tengah terbang di blok Mandalasari(Gn Sawal Utara), blok Curug Tujuh, Blok Ciwalen, Blok Ciharus/Seda (Panjalu). Perkiraan jumlah antara 7-8 ekor dengan jumlah pasangan 3-4 pasang. Kemungkinan data tersebut akan berubah mengingat rentang yang telah cukup yakni 6 tahun. Perubahan data tersebut kemungkinan cenderung meningkat, mengingat semakin seringnya data perjumpaan dilaporkan ke Balai KSDA Jabar II dari para Polisi Kehutanan yang tengah berpatroli rutin.

SM Gn Sawal ditunjuk sebagai kawasan konservasi dengan fungsi Suaka Margasatwa dengan SK Menteri Pertanian No. 420/Kpts/Um/6/1979 tanggal 4 Juli 1979 dengan luas ± 5.400 Ha. Adapun pengertian Kawasan Hutan Suaka Alam adalah hutan dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya, yang juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan.

Secara geografis kawasan SM Gunung Sawal terletak antara 7°15’ LS dan 180°21’ BT Berdasarkan pembagian wilayah administratif pemerintahan, kawasan ini berada dalam 7 (tujuh) wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Cipaku, Cikoneng, Cihaurbeuti, Panumbangan, Panjalu, Kawali dan Sadananya yang berada dalam wilayah Kabupaten Ciamis, Propinsi Jawa Barat.

Kawasan SM Gunung Sawal mempunyai batas-batas sebagai berikut :
Sebelah Utara : Wilayah Kecamatan Panjalu dan sebagian Panumbangan dan Kawali
Sebelah Timur : Wilayah Kecamatan Cipaku dan sebagian Sadananya
Sebelah Selatan : Wilayah Kecamatan Cikoneng dan sebagian Cihaurbeuti
Sebelah Barat : Wilayah Kecamatan Panumbangan dan sebagian Cihaurbeuti

Habitat Elang Jawa
Elang Jawa paling sering dijumpai di ketinggian antara 500 m – 1500 m di atas permukaan laut (dpl) dan di hutan alam (48 %) dari pada di hutan tanaman. Kondisi ini sangat sesuai dengan keadaan Gn Sawal yang hampir seluruh kawasannya merupakan hutan alam (± 95 %), sedangkan sebagian kecil secara sporadis di bagian tepi terdapat hutan tanaman berupa pohon rasamala dan pinus. Hutan alam di kawasan ini merupakan formasi hutan hujan tropis pegunungan bawah atau Sub Montane Forest, dengan ketinggian antara 1.000 s/d 1.500 m dpl. Keadaan topografi lapangan SM Gunung Sawal umumnya berbukit-bukit dan bergunung-gunung dengan puncak yang tertinggi adalah Blok Karantenan (1.764 m dpl). Kemiringan lereng di bagian tengah di atas 30%, sedangkan di beberapa tempat di bagian tepi bervariasi antara 20 % sampai 30%, merupakan habitat yang ideal bagi pemangsa yang satu ini.

Elang Jawa menyukai pohon yang tinggi menjulang yang dapat digunakan untuk mengincar mangsa ataupun sebagai sarang, tercatat bahwa Elang Jawa membangun sarang di pohon Rasamala (Altingia excelsa), Lithocarpus dan Quercus, Pinus (Pinus merkusii) Puspa (Schima wallichii), Kitambaga (Eugenia cuprea), Pasang, Ki Sireum. Jenis pohon tersebut juga banyak dijumpai di Gn Sawal. Jenis-jenis dominan antara lain Puspa (Schima walichii), Saninten (Castanopsis agentea), Hantap (Sterculia sp), Jamuju (Podocarpus imbricatus), Ipis kulit (Acmena acuminatissima), Manglid (Magnolia blumeii). Umumnya sarang ditemukan di pohon yang tumbuh di lereng dengan kemiringan sedang sampai curam pada ketinggian tempat diatas 800 m dpl, dengan dasar lembah memiliki anak sungai. Hal ini berhubungan dengan kesempatan memperoleh mangsa dan pemeliharaan keselamatan anak.

Kondisi tersebut diatas memang sesuai dengan kondisi Kawasan SM Gunung Sawal yang merupakan daerah tangkapan dan resapan air (cachtment area) Daerah Aliran Sungai (DAS) Citanduy yang termasuk salah satu DAS kritis di Jawa Barat. Terdapat ± 30 sungai dan anak sungai yang mengalir dan bermuara di Sungai Citanduy, antara lain : Sungai Cibaruyan, Cimuntur, Cileueur, Cihandeuleum, Cilopadang, Cigalugur, Ciwalen, Ciharus, Cijoho, Cibulan dll. Sumber-sumber air tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat di sekitar kawasan sebagai sumber air bersih untuk keperluan rumah tangga, pertanian, perikanan, irigasi dan PDAM.

Daya jelajah Elang Jawa sangat bervariasi antara 2 km2 – 20 km2 karena berdasarkan survai yang dilakukan YPAL-HIMBIO UNPAD di Gn Jagat dengan luas 1,26 km2 dijumpai 1 pasang Elang Jawa , sedangkan di CA Gn Simpang dengan luas 150 Km2 dijumpai sekitar 6 pasang, dengan melihat data tersebut dapat diketahui bahwa Elang Jawa memiliki daya adaptasi yang cukup baik.

Perilaku Elang Jawa
Rata rata burung pemangsa jarang beranak dan jumlah anaknya pun sangat sedikit, demikian juga dengan Elang Jawa yang berbiak setiap 2 tahun sekali dengan jumlah anak umumnya 1 ekor. Elang Jawa dapat berbiak pada umur antara 3-4 tahun dengan masa mengerami 44-48 hari Musim kawin pada Elang Jawa terjadi antara akhir bulan Januari hingga Mei. Pada anak Elang Jawa umur 27-30 minggu atau 7 bulan telah dapat terbang dan mulai belajar mematikan mangsa. Pada saat tersebut telah dapat membuat 8 variasi suara sehingga dalam komunikasi telah dapat dilakukan dengan baik.

Umumnya Elang Jawa memakan satwa yang mudah ditemukan seperti jenis-jenis tupai (Callosciurus sp dan Tupai sp) dan burung-burung kecil lainnya. Namun Elang Jawa juga tidak menolak jika ada anak kera ekor panjang (Macaca fascucularis) dan jalarang (Ratufa bicolor). Selama ini juga Elang Jawa tidak pernah terlihat mengejar mangsa di udara, hal ini di karenakan ruas kaki Elang Jawa yang terlalu pendek sehingga tidak mampu menangkap burung di udara.

Apa yang harus dilakukan bila menemukan Elang Jawa yang dipelihara,ditangkap dan diperjualbelikan?

SM Gn Sawal yang berada di Kab Ciamis ini hendaknya dijadikan kebanggaan masyarakat Ciamis pada khususnya dan Jawa Barat pada umumnya. Oleh karena itu diharapkan masyarakat selayaknya dan sepatutnya menjaga kawasan tersebut demi kehidupan satwa langka yang konon simbol Negara Indonesia. Dengan menjaga habitat Elang Jawa kita juga telah menjaga sistim penyangga kehidupan masyarakat luas, baik masyarakat disekitar Gn Sawal maupun masyarakat di sepanjang DAS Citanduy. Masyarakat baik yang terdidik maupun tidak kadangkala masih saja memelihara Elang Jawa, atau binatang dilindungi lainnya. Bagi mereka hal tersebut merupakan kebanggaan ataupun kepuasan tersendiri, namun sayang kebanggan dan kepuasan tersebut di ancaman dalam Undang-undang, Ancaman tersebut tidak tanggung-tanggung seperti pada UU Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistimnya, yang secara jelas dan nyata bahwa menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki dan memperdagangkannya baik hidup, mati maupun bagian-bagian tubuhnya saja dinyatakan dilarang dan diancam hukuman maksimal 5 tahun
penjara dan denda maksimal 100 juta rupiah.

Mengapa ancaman tersebut begitu tinggi?
Telah dijelaskan bahwa Elang Jawa berkembangbiak sangat sedikit, selain itu Elang Jawa merupakan mata ratai makanan yang tertinggi dengan demikian dapat dijadikan indikator bagi kelestarian lingkungan. Maksudnya jika Elang Jawa berkurang atau punah maka lingkungan telah mengalami kerusakan, sehingga kehidupan masyarakat di sekitar terancam karena daya dukung sistim penyangga kehidupan yang menurun (longsor, banjir, kekeringan, iklim mikro yang buruk, musim yang tidak menentu). Oleh karena itu keberadaan Elang Jawa sangat diperlukan bagi keseimbangan alam. Yang paling utama adalah nilai kekayaan hayatinya itu sendiri, ingat bila Elang Jawa punah akan bertambah satwa yang hilang dari bumi Indonesia seperti Harimau Jawa dan Harimau Bali.

Oleh karena itu diharapkan masyarakat pro aktiv dalam menyelamatkan Elang Jawa dan habitatnya. Upaya minimal adalah dengan melapor kepada petugas Polisi Kehutanan Satuan Kerja Gn Sawal BKSDA Jabar II, atau Kepala Desa setempat apabila terjadi pengrusakan hutan/habitat Elang Jawa, penangkapan, pemeliharaan maupun perdagangan Elang Jawa , atau membuat sebuah Kelompok Penyelamat Elang Jawa karena di Kab Ciamis belum ada yang bergerak dalam penyelamatan Elang Jawa . Dan kepada masyarakat yang memelihara Elang Jawa diharapkan menyerahkannya kepada petugas Polisi Kehutanan setempat.

Elang Jawa hasil dari penyerahan masyarakat tidak bisa langsung dilepaskan ke alam begitu saja melainkan harus direhabilitasi terlebih dahulu di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS). Hal ini dilakukan untuk mencegah kematian Elang Jawa itu sendiri mengingat Elang Jawa yang telah dipelihara oleh manusia perlu beradaptasi kembali terhadap makanan aslinya, cara hidup di alam, bereproduksi, dan mengenal habitatnya. Dengan sadarnya masyarakat akan penyelamatan Elang Jawa diharapkan keberadaan Elang Jawa di Gn Sawal Kabupaten Ciamis akan lestari, sehingga pesona Elang Jawa dari Gn Sawal tidak hilang ditelan masa. Jadi bagi Polisi Kehutanan seperti kami peluh, lelah, terik matahari kadang-kadang rasa lapar juga mencoba menghampiri namun semua itu akan terobati bila kami melihat kepakan sayap, lengkingan Elang Jawa tanda kebesaran-Nya.

// <![CDATA[//

Gunung Sawal Harus Jadi Hutan Lindung

Petani Diimbau Menanam Palawija

Ciamis, Kompas - Gunung Sawal, sumber air warga Kabupaten Ciamis, harus dijadikan hutan lindung sehingga bisa menjadi daerah tangkapan air yang baik. Dengan hutan lindung yang terjaga kelestariannya, fluktuasi debit air sungai yang berhulu di gunung ini bisa terkendali.

Hal itu diungkapkan Ketua Fraksi Keadilan Sejahtera DPRD Kabupaten Ciamis Didi Sukardi, Kamis (6/9), sehubungan dengan terjadinya penurunan debit air yang cukup drastis pada Sungai Cileueur. Selama ini sungai yang berhulu di Gunung Sawal dan menjadi sumber air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Ciamis ini berdebit normal 120-130 meter kubik per detik. Pada kemarau ini sudah turun menjadi 70 meter per detik.

"Kalau hutan terjaga, debit air sungai di Ciamis tidak turun drastis ketika kemarau," ujar Didi. Kemarau yang sedang terjadi saat ini selain mengakibatkan lahan pertanian mengering, juga menyebabkan kebutuhan air bersih masyarakat sulit terpenuhi. Masyarakat yang menjadi pelanggan PDAM pun harus rela menerima giliran kiriman air akibat menurunnya debit sumber air baku milik PDAM.

Berdasarkan data Dinas Pertanian Ciamis, kemarau menyebabkan 3.160 hektar lahan sawah mengalami kekeringan ringan, 2.968 hektar sedang, 1.286 hektar berat, dan 501 hektar puso. Sementara luas sawah yang sedang terancam kekeringan seluas 5.595 hektar.

Akibatnya, produksi padi pun menurun. Produksi padi bulan Agustus hanya 89.757 ton jauh di bawah hasil produksi sebulan sebelumnya yang sebanyak 314.512 ton.

"Produksi menurun karena pada saat masa primordial, air justru sedikit sehingga bulir padi yang sedang terisi tidak bernas," kata Endang Supardi, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ciamis, Kamis.

Menanam palawija
Menurut Endang, pihaknya dari jauh-jauh hari sudah menganjurkan kepada petani agar tidak berspekulasi dengan kondisi cuaca. Memasuki kemarau sebaiknya petani menanam palawija. Akan tetapi, masih banyak petani yang memaksakan diri menanam. Akibatnya, sawah mereka mengalami kekeringan.

Untuk menanggulangi kondisi ini Dinas Pertanian menyiapkan tujuh pompa air untuk dipakai petani menyedot air dari sumber-sumber air yang masih tersisa. Sementara untuk tahun depan Dinas Pertanian berencana mengusulkan pembuatan sumur pantek.

Kekeringan kemarau sekarang berdampak pula pada pelayanan PDAM Tirta Galuh Ciamis. Akibatnya, PDAM terpaksa menerapkan giliran kiriman air kepada pelanggannya meskipun kadang-kadang air yang diterima pelanggan sedikit kotor. Rata-rata giliran dilakukan dua hari sekali dengan durasi waktu yang bervariasi. Artinya, satu hari mendapat air, satu hari tidak, demikian seterusnya selama kemarau.

"Sebenarnya kalau debit Sungai Cileueur 120 liter per detik saja mampu melayani sekitar 12.000 pelanggan dengan catatan tingkat kebocoran air 20 persen. Namun, ini hal yang berat, apalagi jika tingkat kebocoran saat ini masih 40 persen. Sebab, sekitar 60 persen pipa saluran sudah berusia 30 tahunan," kata Kepala Cabang PDAM Tirta Galuh Ciamis Otong Rusmana.

Salah satu upaya yang sedang dilakukan PDAM Tirta Galuh untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, terutama saat kemarau, lanjut Otong, ialah pembuatan instalasi baru yang mengambil air dari Sungai Citanduy dengan debit 100 liter per detik. Pada kondisi kemarau debit Sungai Citanduy 2.000 liter per detik. (adh)

// <![CDATA[//

SUAKA MARGASATWA GUNUNG SAWAL

KEADAAN FISIK KAWASAN

Luas dan Letak
Kawasan Hutan Gunung Sawal di tetapkan sebagai Suaka Margasatwa berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 420/Kpts/Um/1979 tanggal 4-7-1979 dengan luas 5.400 Ha. Sedangkan menurut hasil pengukuran dalam Berita Acara Tata batas tanggal 10-1-1979, luas kawasan Suaka Margasatwa (SM) Gunung Sawal adalah 5.360 Ha. Secara astronomis, kawasan terletak antara 7º 15’ LS dan 180º 21’ BT. Areal kawasan menurut administrasi pemerintahanmasuk dalam wilayah Kecamatan Panjalu, Kawali, Cipaku, Cikoneng, Cihaurbeuti, Sadananya dan Panumbangan, Kabupaten Ciamis.

Topografi
Pada umumnya kondisi lapangan bergelombang, berbukit terjal dan bergunung serta puncak tertinggi adalah Gunung Sawal, 1.764 meter di atas permukaan laut. Kemiringan lereng di bagian tengah antara 20-30%. Dalam kawasan ini mengalir air sungai Citanduy dengan anak-anak sungainya, yaitu Sungai Cibaruyon, Cipalih, Ciguntur. Dengan banyaknya sungai yang mengalir dalam kawasan ini, secara hydrologis kawasan ini mempunyai arti penting.

Iklim
Keadaan iklim di kawasan SM Gunung Sawal termasuk tipe B berdasarkan klasifikasi dar Schmidt dan Ferguson, curah hujan rata-rata 3.360 mm per tahun, temperatur udara berkisar antara 19º – 27º Celsius.

POTENSI BIOTIK KAWASAN

Flora
Sebagian besar kawasan ini merupakan hutan alam (± 95%) dan sisanya merupakan hutan tanaman. Jenis Pohon yang terdapat di hutan alam antara lain : Teureup (Artocarpus elasticus), Puspa (Schima walichii), Saninten (Castanopsis argantea), Pasang (Quercus sp), Kiara (Ficus sp) dan Jamuju (Podocarpus imbricatus). Sedangkan jenis pohon yang ada dalam hutan tanaman adalah Pinus (Pinus merkusii), Damar (Agathis lorantifolia), Mahoni (Switenia mahagoni), Rasamala (Altingia excelsea) dan Kaliandra (Caliandra sp.)

Fauna
Kawasan ini merupakan habitat yang baik bagi kehidupan satwa liar, sehingga perlu pembianaan agar kelestarianya bisa di jaga. Selain itu dapat juga dimanfaatkan bagi pengembangan ilmu pengetahuan, budaya dan penelitian. Jenis satwa liar yang ada diantaranya dalah : Meong Congkok (Fellis bengalensis), Babi Hutan (Sus vitatus), Macan Kumbang (Panthera pardus), Kancil (Tragulus javanicus), Trenggiling (Manis javanicus), Kera (Macaca fascicularis), Bajing (Sciurus sp), Lutung (Tracyphitecus auratus), Macan tutul (Panthera pardus), Kijang (Muntiacus muntjak), Kalong (Pteropus vamyrus), Elang Lurik (Spilornia cheela), Saeran (Dicrurus leucophaeus) dan lain-lain.

AKSESIBILITAS
Rute perjalanan untuk menuju Suaka Margasatwa Gunung Sawal antara lain adalah :
1. Bandung – Ciawi – Panjalu – Mandalare, berjarak ± 100 Km, dari Mandalare melalui Tabraya menuju ke Blok pasir Ipis ± 6 Km (Trabaya merupakan jalan masuk menuju puncak Gunung Sawal).
2. Bandung – Tasikmalaya/Indihiang – Bojongjengkol/Cihaurbeuti menuju desa Sukamaju , berjarak ± 140 Km, dari Sukamaju menuju Blok Cibaruyun ± 4 Km.
3. Ciamis – Sadananya – Gunungsari, berjarak ± 13 Km, dari Gunungsari menuju Blok Cilopadang/Palasari ± 7 Km.

dikutip dari http://www.dishut.jabarprov.go.id

Suaka Margasatwa Gunung Sawal
Nama:Gunung Sawal
Luas:5400 ha.
Ketinggian rata-rata:600-1764 m dpl.
Status:Suaka Margasatwa dengan SK Mentan 420/Ktps/Um/7/1979
Lokasi:Kabupaten Ciamis
Penjelasan:Hutan hujan dengan jenis tumbuhan Altingia excelsa dan Podocarpus imbricata, macam-macam anggrek dan epifit. Jenis hewan seperti leopard, kancil dan berjenis-jenis burung
Alasan Perlindungan:Perlindungan sumber air dan perlindungan flora dan fauna
Ancaman:Kerusakan hutan secara menyeluruh
Penilaian dan Rekomendasi:Kondisi kawasan secara umum: baik (Nilai: 7.40), Tetap sebagai suaka margasatwa

Komunitas Sahabat Gunung Sawal Ciamis

Assalamualaikum wr.wb.

// <![CDATA[// = 0; --i) { if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”; }
// ]]> // <![CDATA[// = 0; --i) { if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”; }
// ]]>

Seperti yang telah kita ketahui bersama, kondisi dan kualitas lingkungan hidup yang sehat adalah jaminan bagi kelangsungan hidup manusia yang sehat pula.

// <![CDATA[// = 0; --i) { if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”; }
// ]]> // <![CDATA[// = 0; --i) { if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”; }
// ]]>

Pengelolaan lingkungan hidup yang buruk di masa lalu sekarang mulai menyebabkan banyak masalah khususnya di Indonesia. Kualitas udara yang buruk, meningkatnya suhu udara, serta bencana hanyalah sebagian yang bisa kita ingat sebagai akibat rusaknya lingkungan hidup. Belum lagi ancaman pemanasan global (global warming) dan perubahan musim (climate change), yang mengancam eksistensi umat manusia.

// <![CDATA[// = 0; --i) { if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”; }
// ]]> // <![CDATA[// = 0; --i) { if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”; }
// ]]>

Kita tidak bisa hanya mengeluh dan menyalahkan pemerintah, pelaku kejahatan lingkungan, atau mereka yang kita anggap sebagai perusak lingkungan hidup. Butuh lebih dari sekedar saling menuduh dan menyalahkan. Sebagai warga masyarakat yang sadar akan hak dan kewajibannya, kita harus bergerak keluar dari tataran teori, diskusi tanpa arti dan keluhan berkepanjangan. Kita harus bergerak mewujudkan kualitas lingkungan hidup yang aman dan nyaman yang menjadi impian kita semua.

// <![CDATA[// = 0; --i) { if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”; }
// ]]> // <![CDATA[// = 0; --i) { if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”; }
// ]]>

Untuk itu, sebagai suatu langkah awal, bersama beberapa teman kami berada dalam tahap pembentukan Komunitas Sahabat Gunung Sawal Ciamis (KSGS), yang bertujuan untuk menuntut pengelolaan gunung Sawal yang lebih baik oleh semua pihak. Pengelolaan yang dibentuk dari berbagai unsur masayarakat, LSM, pemerintah, pribadi-pribadi yang handal dan kompeten. Pengelolaan yang seharusnya mampu melindungi Gunung Sawal dari kerusakan lebih parah.

Pengelolaan Gunung Sawal yang baik diharapkan dapat memperbaiki kualitas lingkungan hidup khusunya di sekitar kabupaten Ciamis. Udara yang bersih, sehat, dan sejuk. Ketersediaan air bersih untuk minum-makan-mandi-wudlu dan keperluan lain. Ketersediaan habitat yang sehat untuk berbagai flora dan fauna di Kawasan Gunung Sawal, tersedianya lahan dan lapangan pekerjaan bagi masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Sawal tanpa harus merusak hutan. Serta terjaganya warisan karuhun urang Sunda yang diwariskan dari semenjak masa Kerajaan Sunda-Galuh.

Komunitas ini bersifat nirlaba, tidak mengikat, dan dapat diikuti semua fihak. Tidak bersifat politik praktis, tidak untuk menggalang massa agar berafiliasi dengan partai atau kelompok tertentu atau untuk memilih caleg atau calon kepala daerah tertentu. Komunitas ini berdasarkan gerakan moral, niat baik serta keinginan untuk mewujudkan kualitas hidup yang sehat di dalam ekosistem yang sehat pula.

// <![CDATA[// = 0; --i) { if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”; }
// ]]> // <![CDATA[// = 0; --i) { if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”; }
// ]]>

Bagi seluruh warga Ciamis, baik yang masih bermukim di Ciamis, atau yang ‘ngumbara di lembur batur’ diharapkan dapat berpartisipasi dalam komunitas ini. Turut serta dalam upaya-upaya konservasi Gunung Sawal serta pengelolaan yang transparan, akuntabel, serta berorientasi kepada rasa keadilan sosial untuk seluruh masyarakat.

// <![CDATA[// = 0; --i) { if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”; }
// ]]> // <![CDATA[// = 0; --i) { if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”; }
// ]]>

Untuk dukungan, pertanyaan, kritik, saran, serta informasi tambahan dapat dilayangkan ke: sahabatgunungsawal@gmail.com.

// <![CDATA[// = 0; --i) { if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”; }
// ]]> // <![CDATA[// = 0; --i) { if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”; }
// ]]>

Hayu Warga Ciamis. Kanyaah Ka Gunung Sawal Urang Pedarkeun Jadi Tarekah Nu Nyata.

…aya nu mapandeuri pakena gawe ring hayu pakeun heubeul jaya dina buana… (Prasasti Kawali)

// <![CDATA[// = 0; --i) { if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”; }
// ]]> // <![CDATA[// = 0; --i) { if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”; }
// ]]>

Posted in Uncategorized | Leave a comment

PENGGUNAAN BAHASA SUNDA

Bahasa merupakan cermin budaya sebuah masyarakat. Di dalamanya terangkum pengakuan dirinya sebagai satu kesatuan yang membedakannya dengan etnis lainya. Namun yang terjadi saat ini sangat memprihatinkan, banyak para penerus ki sunda ini merasa susah menggunakan bahasa sunda ketika bertemu dengan sesama orang sunda dengan berbagai alasan “gengsilah”, canggunglah( misalnya “maaf saya tidak bisa bahasa sunda halus.”) dan banyak lagi alasan lainya. Hanya segilntir oranglah yang masih peduli dengan bahasa daerahnya sendiri. Apalagi sekarang wilayah kantong-kantong berbahasa sunda sudah semakin tersudutkan. Misalnya wilayah Jabodetabek. Dulu menurut ahli sejarah, bahasa sunda di sebarkan pertama dari wilayah tangerang. Namun seiring datangnya orang melayu ke daerah sunda kelapa. Maka wilayah ini pun berubah haluan menjadi wilayah berbahasa logat betawi. Dan kejadian ini di ikuti oleh wilayah-wilayah di sekitar Jakarta misalnya Tangerang, Bekasi dan Depok. Menurut beberapa sumber, dulu Cibubur adalah wilayah berbahasa Sunda. Pada jaman pemerintahan gubernur Aang junaefi wilayah ini diserahkan ke wilayah Jakarta. Namun, apa yang dapat kita lihat sekarang? Bahasa yang dulu biasa masyarakatnya pakai sudah jarang sekali di temukan.Misalnya lagi wilayah cimanggis yang bertutur sunda kecuali para pendatang, sejak masuk ke wilayah kodya depok kini wilayah dengan tutur sunda itupun semakin susah untuk berbahasa sunda. lama-lama kemungkinan seluruh jawa-barat pun akan kesusahan menemukan bahasa asli daerahnya.Mungkin itulah dampak negatif dari daerah tujuan urbanisasi seperti pulau Jawa. Untuk itu mari kita mulai untuk senantiasa melestarikan bahasa daerah kita sendiri. jangan sampai bahasa daerah kita terkikis habis oleh budaya lain yang merong-ronginya. jangan sampai kita peduli terhadap identitas kita setelah bangsa lain mengklaimnya

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pandangan Hidup Orang Sunda: Islam-Sunda Atau Sunda-Islam?

Oleh Oleh M. ANTON ATHOILLAH HASYIM

Penelitian orientasi nilai budaya manusia dari berbagai suku bangsa dan golongan sosial serta penelitian tentang sampai dimanakah nilai budaya itu bisa menghambat atau mendorong pembangunan nasional, dapat dilakukan dengan menggunakan konsep dasar tertentu.

Konsep dasar yang dipakai adalah konsep sistem nilai budaya (cultural values), seperti yang diajukan oleh ahli sosiologi dan antropologi yang terkenal, Talcott Parsons, G. Kluckhohn, dan R. Merton.

Dalam hubungan itu, sistem nilai budaya merupakan suatu rangkaian dari konsep luas dan abstrak yang hidup dalam alam pikiran dari sebagian besar warga suatu masyarakat, mengenai apa yang harus dianggap penting dan berharga dalam hidup. Dengan demikian, sistem nilai budaya itu juga berfungsi sebagai suatu pedoman orientasi bagi segala tindakan manusia dalam hidup (Koentjaraningrat, 1977: 246).

Untuk menentukan unsur yang biasanya menjadi suatu sistem nilai budaya dalam suatu masyarakat, dalam penelitian ini, dapat dipakai teori C. Kluckhohn dan F. Kluckhohn (sepasang suami-istri), yang diuraikan secara panjang lebar dalam buku karya F. Kluckhohn dan F. L. Strodtbeck berjudul Variations in Value Orientation (1961). Dalam teorinya itu Kluckhohn berpangkal kepada lima masalah dasar yang universal dan yang berbeda dalam semua kebudayaan dimana pun di dunia ini. Kelima masalah dasar itu adalah (Koentjaraningrat, 1977: 247): masalah hakikat hidup manusia; masalah hakikat karya manusia; masalah hakikat kedudukan manusia dalam ruang waktu; masalah hakikat hubungan manusia dengan alam sekitarnya; dan masalah hakikat hubungan manusia dengan sesamanya.

Cara berbagai kebudayaan di dunia itu, dalam mengonsepsikan masalah tersebut bisa berbeda-beda. Meski dipahami bahwa kemungkinan untuk bervariasi itu terbatas adanya. Seperti pada masalah pertama, ada kebudayaan yang memandang hidup manusia itu pada hakikatnya suatu hal yang buruk dan menyedihkan dan karena itu harus dihindari. Kebudayaan-kebudayaan yang terpengaruh agama Budha misalnya, dapat disangka mengonsepsikan hidup itu sebagai suatu hal yang buruk. Pola tindakan manusia akan mementingkan segala usaha untuk menuju ke arah tujuan untuk bisa memadamkan hidup itu dan meremehkan segala tindakan yang hanya mengekalkan rangkaian kelahiran kembali.

Adapun kebudayaan lain memandang hidup manusia itu pada hakikatnya merupakan suatu hal yang baik. Ada pula yang memandang hidup manusia itu pada hakikatnya buruk, tetapi manusia dapat mengusahakan untuk menjadikan hidup itu suatu hal yang baik dan menggembirakan. Masalah kedua, ada kebudayaan yang memandang bahwa karya manusia itu pada hakikatnya bertujuan untuk memungkinkannya hidup. Kebudayaan lain menganggap tujuan dari karya manusia itu untuk memberikan kepadanya suatu kedudukan dalam masyarakat. Ada juga kebudayaan yang menganggap karya manusia itu sebagai gerak hidup yang harus menghasilkan lebih banyak karya lagi.

Masalah ketiga, ada kebudayaan yang memandang bahwa masa lampau adalah sesuatu yang penting dalam kehidupan manusia. Dalam kebudayaan seperti itu, orang akan sering mengambil, dalam tindakannya, sejumlah contoh dan kejadian dalam masa lampau itu. Sebaliknya, ada pula kebudayaan yang hanya punya suatu pandangan waktu yang sempit. Manusia dari suatu kebudayaan serupa itu, tidak akan memusingkan diri dengan memikirkan masa yang lampau maupun masa yang akan datang. Mereka hidup menurut keadaan yang ada pada masa sekarang ini. Kebudayaan lain justru mementingkan pandangan yang berorientasi sejauh mungkin terhadap masa yang akan datang. Dalam kebudayaan serupa itu perencanaan hidup menjadi suatu hal yang amat penting.

Masalah keempat, ada kebudayaan yang memandang alam itu suatu hal yang begitu dahsyat sehingga manusia itu pada hakikatnya hanya bersifat menyerah, tanpa ada banyak yang dapat dilakukan. Sebaliknya ada pula kebudayaan lain yang memandang alam itu suatu hal yang bisa dilawan oleh manusia dan mewajibkan manusia untuk selalu berusaha menaklukkan alam. Kebudayaan lain menganggap bahwa manusia itu hanya bisa berusaha mencari keselarasan dengan alam.

Masalah kelima, ada kebudayaan yang amat mementingkan hubungan vertikal antara manusia dan sesamanya. Dalam pola kelakuannya, manusia yang hidup dalam suatu kebudayaan serupa itu, akan berpedoman kepada tokoh-tokoh pemimpin, orang-orang senior, atau orang-orang atasan. Kebudayaan lain lebih mementingkan hubungan horizontal antara manusia dengan sesamanya.

Orang yang berada dalam kebudayaan itu akan sangat merasa bergantung kepada sesamanya dan akan upaya memelihara hubungan baik dengan tetangganya dan sesamanya merupakan suatu hal yang amat terpuji. Kebudayaan lainnya tidak membenarkan anggapan bahwa manusia harus tergantung orang lain dalam hidupnya. Kebudayaan seperti itu, yang amat mementingkan individualisme, menilai tinggi anggapan bahwa manusia itu harus berdiri sendiri dalam hidupnya dan sedapat mungkin mencapai tujuannya dengan sedikit mungkin bantuan dari orang lain (Koentjaraningrat, 1977: 250).

Pandangan Hidup Orang Sunda

Dalam Ensiklopedi Sunda (2000) disebutkan bahwa pandangan hidup orang Sunda itu terbagi kepada tiga bagian. Bagian pertama tecermin dalam tradisi lisan dan sastra Sunda yang berasal dari kalangan lapisan atas (elite). Penelitian yang dilakukan oleh Soewarsih Warnaen dkk. (1987) ini meneliti, 79 ungkapan dalam bahasa Sunda dan 20 dalam bahasa Cirebon, Carita Pantun Lutung Kasarung edisi F. F. Eringa dalam disertasinya, (1949), naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian, Sawer Panganten dan dua roman R. Memed Sastradiprawira yaitu Mantri Jero (1928), dan Pangeran Kornel (1930).

Hasilnya disimpulkan bahwa pandangan hidup orang Sunda itu terdiri atas: (1) manusia sebagai pribadi; (2) manusia dengan masyarakat; (3) manusia dengan alam; (4) manusia dengan Tuhan; dan (5) manusia dalam mengejar kemajuan lahir dan kepuasan batin. Penelitian ini sampai pada adanya dua pandangan, yaitu yang pertama, pandangan yang membagi manusia menjadi dua golongan ialah golongan penguasa dan golongan rakyat, sedangkan yang kedua, tidak membedakan apakah seseorang itu termasuk penguasa ataukah bukan sehingga berlaku umum.

Pada penelitian kedua, pandangan hidup orang Sunda tecermin dalam tradisi lisan dan sastra Sunda. Penelitian berikutnya, yang berarti tahap kedua, dilakukan oleh Suwarsih Warnaen dkk. (Bandung, 1987). Berlainan dengan penelitian pertama yang terutama dipusatkan kepada tradisi lisan dan karya sastra yang berasal dari kalangan lapisan atas (elite), penelitian ini mengambil bahan lisan dan karya lapisan bawah (somahan), yaitu yang berupa uga, adat-istiadat, cerita rakyat (yang sudah dibukukan) dan tiga buah novel (Rasiah Nu Goreng Patut karya Yuhana, Lain Eta karya Moh. Ambiri dan Mayit Dina Dahan Jengkol karya Ahmad Bakri).

Dari analisis terhadap bahan-bahan yang diteliti itu dapat diidentifikasikan sejumlah sifat khas yang dianggap baik dan tidak baik oleh orang Sunda. Semuanya digolongkan kepada empat kategori besar, yaitu (1) akal; (2) budi; (3) semangat; dan (4) tingkah laku.

Dalam kategori akal yang dianggap baik ialah sifat-sifat pintar, pandai, cerdas, cerdik, arif, berpengalaman luas, dan menjunjung tinggi kebenaran, sedangkan yang tidak baik adalah bodoh, banyak bingung, suka bohong, membenarkan yang bohong, pandai membohongi orang, dan terlalu benar (dalam pengertian tidak surti). Dalam kategori budi ada 31 macam sifat yang baik, antara lain jujur, suci, punya pendirian, takwa, tidak takabur, siger tengah (tidak ekstrem), bageur (orang baik), bijaksana, berjiwa kerakyatan, punya rasa malu, taat pada orang tua, punya harga diri, setia, bisa dipercaya, dll. Sementara sifat yang tidak baik antara lain, pendendam, tidak berperasaan, tidak punya rasa malu, tidak tahu berterima kasih, dan takabur.

Dalam kategori semangat, sifat yang dipandang baik ada 18 macam, antara lain punya idealisme, sabar, percaya kepada takdir, tabah, punya semangat belajar, mau berikhtiar, rajin, lebih baik mati daripada hidup hina, berani, bersifat satria, ulet, tahan godaan, khusuk dalam berdoa, sedangkan yang dianggap tidak baik, antara lain merasa tidak berdaya, menyiksa diri sendiri, pengecut, penakut, serakah, dan menyalahgunakan kedudukan.

Dalam kategori tingkah laku, sifat yang dianggap baik ada 38 macam, antara lain, sederhana, matang perhitungan, suka menolong, sopan, waspada, teliti, tahu diri, ramah, tidak licik, menepati janji, hemat, tidak banyak bicara, punya keterampilan, dan lain-lain. Sementara sifat yang tidak baik ada 59 macam, antara lain, suka menonjolkan diri, sombong, berpakaian berlebihan, malas, tidak mau berusaha, suka bertengkar, suka mencuri, dengki, menipu, licik, pencemburu, dijajah materi, cerewet, bicara sembarangan, usilan terhadap orang lain, suka menasihati orang lain, tidak menghargai orang lain, selingkuh, boros, dan lain-lain.

Peneliti pun mengidentifikasikan pandangan hidup orang Sunda tentang hubungan manusia dengan masyarakat (pergaulan antarjenis, pergaulan dalam lingkungan keluarga dalam masyarakat luas). Tentang hubungan manusia dengan alam (alam nyata, dan alam gaib) diidentifikasikan bahwa orang Sunda memandang lingkungan hidupnya bukan sebagai sesuatu yang harus ditundukkan, melainkan harus dihormati, diakrabi, dipelihara, dan dirawat. Sementara tentang manusia dengan Tuhan (menurut uga dan menurut adat istiadat) dapat diidentifikasikan bahwa meskipun sekarang umumnya memeluk agama Islam, masih banyak kepercayaan pra-Islam yang masih menjadi pegangan walaupun hasil analisis data menyimpulkan bahwa orang Sunda amat mengakui akan kekuasaan Tuhan.

Pada penelitian ketiga, pandangan hidup orang Sunda tercermin dalam kehidupan masyarakat Sunda dewasa ini. Penelitian tahap ketiga ini dilakukan oleh Yus Rusyana dkk. (Bandung, 1989). Berlainan dengan dua penelitian sebelumnya, penelitian tahap ketiga ini dilakukan dengan mengadakan kuesioner terhadap orang Sunda di enam wilayah, yaitu 4 wilayah pedesaan (Sukabumi, Sumedang, Garut dan Tasikmalaya) dan 3 wilayah kota (Cianjur, Sumedang, Bandung). Pertanyaan yang diajukan berdasarkan hasil penelitian sebelumnya berkenaan dengan pandangan orang Sunda mengenai, (1) manusia sebagai pribadi, (2) manusia dengan Tuhan; (3) manusia dengan alam; dan (4) tentang mengejar kemajuan lahir dan kepuasaan batin.

Untuk mengetahui apakah terjadi pergeseran atau tidak terhadapnya, hasil angket itu ternyata menunjukkan bahwa pada umumnya terjadi pergeseran dalam setiap aspek yang ditanyakan. Akan tetapi tidak terjadi perubahan yang besar. Pandangan hidup berkenaan dengan manusia sebagai pribadi, dan dalam hubungannya dengan Tuhan dan manusia dalam mengejar kemajuan lahir dan kepuasan batin, dapat dikatakan tetap. Perubahan terjadi pada aspek manusia dengan alam dan manusia dengan masyarakat, tetapi itu pun tidak sama dalam semua hal, tergantung wilayah dan aspeknya. Tak tampak perbedaan yang mencolok antara pandangan hidup orang Sunda dewasa ini. Dengan tetap berakar pada tradisinya, telah dan sedang mengalami pergeseran dan perubahan itu, perubahan mengarah kepada pandangan yang lebih waspada, lebih bertauhid dalam beragama, lebih realistis dalam bermasyarakat dan lebih memahami aturan alam (Ensiklopedi Sunda, 2000).

Perguruan Tinggi Agama Islam dan Islam Sunda

Secara umum, masyarakat Jawa Barat beretnis Sunda dan mayoritasnya pemeluk agama Islam. Berdasarkan hal tersebut dapat dimunculkan sejumlah gagasan untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap berkenaan dengan hubungan antara Islam sebagai agama dan Sunda sebagai etnis terbesar di Jawa Barat ini. Untuk menjelaskan hubungan itu pula, banyak aspek yang bisa diteliti.

Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Gunung Djati Bandung adalah sebuah perguruan tinggi Islam yang terletak di ibu kota Provinsi Jawa Barat. Perguruan tinggi ini, karena mengajarkan ilmu-ilmu agama Islam di lingkungan masyarakat Sunda, sudah sepantasnya menyadari akan hal tersebut. Oleh karena itu, kegiatan yang didesain perguruan tinggi ini diusahakan agar memiliki nilai tambah; tidak hanya sekedar membahas masalah akademik murni.

Kegiatan yang dilakukan, diupayakan dapat menghasilkan dampak sinergi yang positif, baik dunia akademik secara intern, maupun bagi kehidupan masyarakat Sunda di Provinsi Jawa Barat ini pada umumnya. Masalah tersebut dapat diklasifikasikan, secara fakultatif, di IAIN Sunan Gunung Djati Bandung. Seperti, untuk Fakultas Ushuluddin, dapat diungkap masalah yang berkenaan dengan konsep ketuhanan orang Sunda. Untuk Fakultas Syari‘ah, dapat diungkap masalah yang berkenaan dengan Hukum Islam dan Pranata Sosial dan lain-lain.

Sebagai contoh, bagaimana hubungan yang terjadi antara penyebaran Islam dengan pelembagaan hukum kewarisan Islam, dapat dilihat dari penelitian Cik Hasan Bisri dkk. (1992). Dengan mengambil kasus Desa di Cinanjung, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, yang dihuni oleh masyarakat petani (peasent society), penelitian ini menggambarkan penyebarluasan dan pelembagaan hukum kewarisan Islam, sebagai rangkaian dari dakwah Islamiah secara kultural, berlangsung hampir bersamaan dengan masuk dan berkembangnya agama Islam di desa itu. Proses itu mengalami penyesuaian dan penyelarasan dengan kebudayaan setempat.

Kenyataan demikian terlihat dalam pola distribusi harta peninggalan (tirkah) yang dikenal oleh masyarakat setempat sebagai sumun (Arab: tsumun: seperdelapan). Ia merupakan suatu pemberian dari ahli waris, terutama anak, kepada perempuan (janda) dari harta peninggalan suaminya yang meninggalkan anak atau yang tidak meninggalkan anak. Disebut pemberian, karena menurut ketentuan hukum kewarisan Islam janda itu memiliki hak warisan dari harta peninggalan suaminya.

Oleh karena sumun merupakan suatu pemberian, maka bagian harta yang diperoleh janda itu tidak ditentukan secara pasti. Sedangkan menurut hukum kewarisan Islam, ia merupakan hak janda bila muwarits meninggalkan anak (Q. S. al-Nisā’: 12). Hal ini menunjukkan bahwa antara konsep sumun yang dianut oleh sebagian masyarakat dengan tsumun (seperdelapan) sebagaimana yang dimaksud dalam al-Qur’an berbeda makna, meskipun berasal dari gagasan yang sama. Ia mengalami pencampuran dengan kaidah sosial di dalam masyarakat tersebut.

“Pencampuran” hukum kewarisan Islam dengan kaidah lokal itu tampaknya sederhana. Namun di dalamnya mengandung kerumitan, terutama jika dilihat dari perspektif antropologis dan sosiologis. Dalam perspektif ini, di balik konsep sumun, tersirat keyakinan (kesepakatan tentang benar salah), nilai (kesepakatan tentang baik atau buruk), dan kaidah (kesepakatan tentang apa yang harus dan tidak mesti dilakukan). Dan secara sosiologis tersirat tentang posisi perempuan di dalam keluarga, baik kedudukannya sebagai istri (janda) maupun kedudukannya sebagai ibu. Kedua perspektif itu tercermin dalam sistem kewarisan yang berlaku dalam masyarakat itu.

Uraian di atas menunjukkan, bahwa penyebarluasan dan pelembagaan hukum kewarisan Islam itu telah berlangsung. Hal itu terbukti dengan adanya konsep sumun yang telah dikenal dan melembaga. Walau demikian, penerimaan dan penyelarasan terhadap gagasan itu terpaut dengan sistem sosial yang dianut, yaitu dengan kaidah dan struktur sosial masyarakat setempat. Hal ini menunjukkan, pola distribusi harta peninggalan mengalami keragaman. Sumun menerima unsur lain, sebagai ‘illat sehingga bersifat luwes. Ia beralih kedudukan, dari hak yang memola menjadi pemberian yang “tidak memola” (Cik Hasan Bisri, dkk., 1992).

Dari sejumlah ilustrasi di atas, terbuka peluang untuk dilakukan sejumlah penelitian terhadap aspek hukum dan pranata sosial pada masyarakat Sunda di Jawa Barat ini. Penelitian terhadap aspek-aspek lain, seperti telah disebutkan di muka, juga dapat dilakukan sesuai dengan permasalahan yang ada. Tinggal siapa yang melakukan dan kapan penelitian itu dilakukan? Jawabannya dikembalikan kepada para peneliti, akademisi, atau intelektual yang memiliki ketertarikan dan kepedulian terhadap keislaman dan kesundaan itu sendiri.

Penulis, Anggota Majlis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam P.W. Muhammadiyah Jawa Barat. [Pikiran Rakyat, 17 Juni 2003]

Posted in Uncategorized | Leave a comment

SUNDA SANTAI, ISLAM SANTAI

Acep Zamzam Noor

BEBERAPA tahun yang lalu saya dan teman-teman mengadakan “pengajian budaya” di komplek Pondok Pesantren Cipasung dengan menggelar kesenian-kesenian tradisional Sunda yang masih tersisa di sekitar Tasikmalaya dan Ciamis. Di antara jenis kesenian yang sempat ditampilkan pada program bulanan itu ada yang benar-benar buhun seperti Pantun Beton, Calung Tarawangsa, Beluk, Terebang Gebes, Terebang Sejak, Genjring Ronyok dan Ronggeng Gunung. Menyaksikan kesenian-kesenian yang sudah sangat langka tersebut, saya seperti menemukan kembali benang merah yang mengaitkan kesenian-kesenian tersebut dengan Islam, khususnya dengan budaya pesantren. Keterkaitan itu mungkin karena kesenian-kesenian buhun tersebut telah dipengaruhi budaya pesantren, namun bisa juga terjadi sebaliknya: kesenian bernapaskan Islam yang dipengaruhi budaya Sunda.

Masyarakat Sunda sudah terbentuk jauh sebelum Islam masuk. Sebelum datangnya Islam, selain sudah memeluk agama sendiri masyarakat Sunda juga sudah memiliki beragam jenis kesenian, termasuk sastra di dalamnya. Almarhum M. Holis Widjaja, salah seorang dalang Pantun Beton paling senior di Tasikmalaya, pernah mengatakan bahwa seni pantun merupakan jenis sastra tutur yang sangat tua dan sudah dikenal sejak beradab-abad lalu. Maka tak mengherankan jika dalam setiap pementasannya, seorang dalang (juru pantun) selalu mengawali dengan pembacaan rajah, semacam mantera untuk memohon restu dan keselamatan kepada para leluhur, batara-batari dan dewa-dewi. Setelah pengaruh Islam masuk, rajah atau mantera tersebut tidak dihilangkan namun permohonan restunya disampaikan juga kepada Allah, Rasulullah, para wali, para kiai dan tokoh-tokoh setempat. Meskipun begitu, sesaji yang terdiri dari ubi-ubian, rupa-rupa kembang, rumput palias, minyak wangi, beras, telur, kopi, cerutu dan ayam saadi tetap harus dipenuhi sebagai syarat berlangsungnya pementasan.

Calung Tarawangsa yang masih bertahan di daerah Cibalong juga sudah ada sejak berabad-abad lalu, meskipun dari mana asalnya sulit untuk ditelusuri. Kesenian ini hidup secara turun-temurun, baik musik, lagu maupun syairnya hanya diajarkan dari mulut ke mulut, tanpa teks tertulis. Menurut Pak Aseng yang mengetuai kelompok ini, tak semua orang bisa menjadi penembang tarawangsa. Ada beberapa ritual yang harus dilewati seperti puasa dan tirakat. Banyak yang percaya bahwa kesenian ini bisa mendatangkan mahluk gaib ketika pementasan berlangsung. Kesenian ini dipentaskan bukan semata untuk hiburan, tapi juga sebagai terapi penyembuhan bagi orang sakit, bahkan bisa membawa keberuntungan jika dimainkan saat hajatan atau menjelang panen. Belakangan hal-hal yang berbau mistik tersebut dikurangi karena menyesuaikan diri dengan perkembangan masyarakat sekitar yang semakin nyantri. Calung Tarawangsa masih sering dipentaskan sampai sekarang, meski lebih sebagai tontonan biasa.

Terebang Gebes adalah satu di antara beberapa jenis kesenian buhun yang masih hidup di kampung Cirangkong, sebelah barat daya Singaparna. Kesenian terebang ini meski sudah ada sejak dahulu kala, namun bisa dipastikan muncul setelah masyarakat Sunda memeluk Islam. Terebang adalah sejenis alat musik perkusi seperti halnya rebana, genjring atau bedug yang sangat identik dengan kesenian Islam. Di kawasan Priangan kesenian semacam ini banyak sekali jenisnya, yang umumnya berfungsi untuk mengiringi tembang atau shalawat. Namun perkusi dari Cirangkong mempunyai keunikan tersendiri, selain terbuat dari kayu nangka yang sangat berat karena ketebalannya, kulitnya pun harus dari kulit kerbau yang belum disamak. Kesenian ini juga tak lepas dari hal-hal yang berbau mistik. Dulu kesenian terebang yang satu ini sangat digemari dan sering dijadikan arena adu kekuatan hingga tangan dan punggung para penabuhnya mengeluarkan darah.

Menurut Mang Ipin, yang mengasuh beberapa kelompok kesenian buhun di Cirangkong, kesenian terebang bisa hidup sampai sekarang karena masyarakat masih membutuhkan. Seperti juga kesenian-kesenian buhun lainnya yang masih bertahan, Terebang Gebes pun melakukan berbagai penyesuaian dengan kondisi lingkungan sekitar. Kini tak ada lagi sesaji atau kemenyan yang dibakar menjelang pementasan, begitu juga atraksi adu kekuatan sampai mengeluarkan darah jarang sekali dilakukan. Selain Terebang Gebes dan Beluk, di Carangkong masih hidup beberapa kesenian lain seperti Terebang Sejak, Rengkong, Debus dan juga Lais. Hampir semua pendukung dari kelompok-kelompok kesenian ini adalah petani, yang sehari-harinya juga aktif mengikuti pengajian di masjid.

Keterkaitan berbagai kesenian Sunda dengan Islam sudah mempunyai sejarah panjang, termasuk juga dengan Wayang (golek dan kulit) yang pada beberapa bagian lakon dan tokoh-tokohnya mengalami penyesuaian dengan kepercayaan Islam, bahkan menjadi media dakwah Islam. Demikian juga halnya dengan bidang sastra, para peneliti telah mencatat begitu banyak karya-karya klasik seperti wawacan (baik asli maupun saduran) yang berisi uraian-uraian tentang agama seperti fikih, akhlak, tasawuf, tarikh serta riwayat nabi yang ditulis para pujangga Sunda abad ke-19, dari mulai R. Bratadiwidjaja yang menyadur Wawatjan Bidajatussolik karya Abdussamad al-Palimbani sampai R. Soeriadiredja yang menulis Wawatjan Poernama Alam. Sementara H. Hasan Mustopa yang dikenal sebagai kiai dan penghulu besar, sekitar tahun 1890 banyak menulis uraian-uraian masalah keagamaan dalam bentuk guguritan yang sangat indah, yang berhasil memasukkan kemerduan bahasa Arab ke dalam bahasa Sunda. Menurut Ajip Rosidi, di masa-masa produktifnya Hasan Mustapa telah menulis guguritan sebanyak 20.000 bait meskipun yang dapat ditemukan hanya 10.815 bait saja.

***

Dalam karya-karya sastra klasik banyak dijumpai unsur-unsur dakwah yang bersifat langsung, di mana baik wawacan maupun guguritan telah menjadi media penyampai pesan keagamaan yang efektif karena karya sastra yang umumnya dituturkan (ditembangkan) tersebut sangat disukai masyarakat. Pesan dalam karya-karya klasik ini ada yang bersifat formal seperti uraian-uraian tentang fikih, akhlak, tasawuf dan tarikh, namun ada juga yang simbolis seperti kisah-kisah para wali serta hikayat-hikayat yang berbau mistik. Sementara dalam karya-karya sastra modern (khususnya yang mulai ditulis sebelum perang kemerdekaan) unsur-unsur dakwah tampil lebih halus dan tersamar, yang menonjol justru masalah-masalah keseharian masyarakat Sunda yang umumnya rakyat kecil. Bisa jadi karya-karya tersebut tidak diniatkan langsung untuk berdakwah, dan kalau pun ada pesan moral di dalamnya, hal itu merupakan bagian dari persoalan umum masyarakat Sunda.

Meskipun begitu, membaca karya-karya sastra (khususnya prosa) pada zaman sebelum perang ini seperti menunjukkan bahwa posisi pesantren dalam kehidupan masyarakat Sunda mempunyai tempat yang sangat penting. Hampir semua pengarang besar mulai dari Moh. Ambri, Samsoedi, Tjaraka, Ki Umbara, Ahmad Bakri sampai R.A.F. (Rachmatulloh Ading Affandi) dan dilanjutkan Usep Romli H.M. kerap mengambil kehidupan pesantren sebagai inti dari cerita-ceritanya. Tokoh-tokoh seperti kiai, haji, santri, pemuda kampung, penghulu, lurah atau dukun adalah tokoh yang umum dalam karya-karya mereka. Namun yang perlu dicatat, baik pesantren maupun orang-orang pesantren selalu ditempatkan pada posisi yang wajar, manusiawi dan santai. Dengan demikian tokoh-tokoh seperti kiai, haji, penghulu atau santri tidak selalu menjadi tokoh yang paling benar, kadang mereka malah digambarkan berbuat salah atau konyol. Begitu juga pesantren tidak pernah digambarkan sebagai lembaga pendidikan atau keagamaan yang sakral atau luar biasa, tapi hanya bagian dari kelengkapan sebuah kampung.

Ki Umbara (1914-2005) merupakan pengarang yang sangat piawai dalam menggambarkan suasana batin orang-orang Sunda, baik dari kalangan pesantren maupun mereka yang percaya pada adanya mahluk halus, hantu dan siluman. Meskipun dalam biodatanya tidak ada catatan pernah mondok, namun ia sangat menguasai atmosfir dunia pesantren. Bersama pengarang S.A. Hikmat, ia menulis roman yang berjudul Pahlawan-pahlawan Ti Pasantren. Selain itu ia pun banyak menulis cerita saduran dari khasanah pesantren, seperti yang terkumpul dalam Nu Tareuneung dan Hamzah Singa Allah yang merupakan kisah para pahlawan dan syuhada Islam. Sementara kisah-kisah tentang perjuangan mempertahankan tauhid dikumpulkan dalam Sempalan Tina Tareh, yang merupakan hikmah-hikmah dari kehidupan para nabi dan sahabatnya. Tiga bukunya yang terakhir ini bukanlah sekedar catatan sejarah, tapi refleksi sang pengarang terhadap sejarah itu sendiri.

Ki Umbara juga dikenal sebagai pengarang spesialis cerita-cerita hantu, terutama lewat buku-bukunya yang laris seperti Diwadalkeun Ka Siluman, Teu Tulus Paeh Nundutan, Si Bedog Panjang, Maju Jurang Mundur Jungkrang, Si Lamsijan Kaedanan serta sebuah cerita misteri yang dikumpulkan Ajip Rosidi belakangan ini, yakni Jurig Gedong Setan. Ki Umbara menulis cerita-cerita misteri bukan untuk menyangkal adanya kekuatan supranatural, mahluk halus, hantu dan siluman dari pikiran orang-orang Sunda, tapi justru untuk mengingatkan para pembaca bahwa manusia yang beriman lebih mulia dari hantu dan siluman. Dengan demikian manusia tak perlu lagi merasa takut kepada yang selain Allah. Memang tak bisa dipungkuri cerita-cerita Ki Umbara baik yang disadur dari sejarah maupun mengenai hantu sangat kental dengan unsur dakwah Islam, meski ia melakukannya dengan cara menampilkan contoh-contoh dan bukan menggurui.

Di tangan para pengarang Sunda tema-tema keagamaan sering tampil dengan santai dan kadang terkesan main-main. Ahmad Bakri (1917-1988) adalah pengarang Sunda yang sangat digemari para pembaca, selain karena produktivitasnya juga karena ketarampilannya dalam melukiskan kehidupan masyarakat kecil dengan begitu hidup dan segar. Kejadian sehari-hari dengan tokoh-tokohnya yang berkisar antara camat, lurah, penghulu, kiai atau haji, santri dan pemuda kampung kerap hadir menjadi cerita yang menarik. Tema-tema keagamaan seperti puasa, tarawih, lebaran, zakat dan semacamnya dihadirkan lewat jalan pikiran dan perilaku orang-orang kecil. Misalnya bagaimana orang sekampung menjadi tidak makan sahur hanya karena sekelompok anak muda memboikot untuk tidak membangunkan mereka. Bagaimana bedug dipindahkan dari masjid ke atas bukit sebagai protes karena dilarang ngadulag selama bulan puasa, dan dari atas bukit itulah mereka mengganggu penduduk dengan memukul bedug sepuasnya. Bagaimana kelelawar yang biasa keluar dari sarangnya setiap senja dijadikan petunjuk waktu untuk berbuka puasa. Begitu juga kejadian-kejadian lucu saat terawih, menyetor zakat fitrah atau perdebatan yang seru seputar lebaran yang jatuh pada Jum’at, yang dipercaya akan mengundang harimau datang ke kampung karena ada dua khotbah dalam satu hari.

Ahmad Bakri yang di masa mudanya pernah mondok ini bukan hanya menulis cerita pendek tapi juga cerita anak-anak, buku-bukunya yang sudah terbit lumayan banyak dan di antara yang terkenal adalah Payung Butut, Rajapati Di Pananjung, Srangenge Surup Manten, Saudagar Batik, Mayit Dina Dahan Jengkol, Jurutulis Malimping, Ki Marebot dan beberapa yang lain. Belakangan atas upaya Ajip Rosidi beberapa cerpennya yang tercecer di berbagai majalah diterbitkan dalam dua buku yang cukup tebal: Dina Kalangkan Panjara dan Dukun Lepus. Dengan caranya yang santai Ahmad Bakri sebenarnya banyak melakukan kritik lewat cerita-ceritanya, misalnya soal penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan penghulu atau aparat desa, soal menak-menak yang sombong dan serakah, haji yang merasa benar sendiri, ustadz yang gila hormat, lurah yang ucapannya berbeda dengan kelakuan dan semacamnya. Kritik-kritiknya terasa santai namun menggelitik.

Di pesantren-pesantren tradisional Sunda yang umumnya berada di kampung-kampung, agama diperkenalkan pada anak-anak juga dengan cara yang santai. Anak-anak dilatih melaksanakan shalat dan puasa misalnya, dengan cara membiasakan diri. Itu pun tergantung pada kemampuan masing-masing, tidak dengan pemaksaan. Agama juga diajarkan dengan penuh kegembiraan, misalnya menghapal nama-nama nabi, menghapal keluarga Rasulullah, menghapal rukun iman dan rukun Islam semuanya dilakukan lewat nyanyian, lewat nadoman. Dengan “metode” santai seperti ini, juga dengan dosis yang tidak berlebihan agama merasuk ke dalam jiwa anak-anak tanpa terasa dan sangat alamiah. Tidak diawali dengan menjejalkan doktrin-doktrin ke dalam otak, tapi dimulai dengan berlatih dan merasakannya dalam hati. Dengan demikian bagi anak-anak kampung agama tidaklah selalu berwajah garang apalagi mengancam.

Wajah agama yang santai ini dengan berhasil digambarkan oleh R.A.F. dalam Dongeng Enteng Ti Pasantren yang terdiri dari 40 cerita. Meskipun ditulis pada dekade tahun 1960-an, cerita-cerita seputar dunia pesantren ini konon berlangsung sebelum perang atau tepatnya sebelum Jepang datang. Maka baik tokoh maupun latar tempatnya tak jauh berbeda dengan cerita-cerita Ahmad Bakri, masih tentang orang-orang sederhana dari sebuah kampung yang lokasinya berada di sekitar Ciamis dan Tasikmalaya. Hanya saja R.A.F. bercerita bukan dengan kacamata orang luar, tapi sebagai orang dalam yang tinggal di pesantren. Dengan demikian detail-detail mengenai kehidupan santri dan suasana pesantren pada waktu itu terungkap begitu gamblang. Bagi yang pernah merasakan mondok di pesantren tradisional membaca cerita-cerita ini mungkin seperti mengurai kembali kenangan lama.

Dongen Enteng Ti Pasantren bentuknya mendekati sebuah roman meskipun cerita-cerita yang terdapat di dalamnya bisa berdiri sendiri-sendiri. Dimulai dengan penggambaran tentang sosok kiai Sunda yang umumnya hidup sederhana, tentang keluarganya yang terdiri dari istri dan anak perempuan, lalu tentang suasana pesantren yang lokasinya hampir bisa dipastikan selalu dekat dengan sawah, kolam, gunung dan sungai. Begitu juga bangunan-bangunan sederhana yang terdapat di dalamnya: rumah kiai, masjid dan asrama yang semuanya berdinding bambu. Setelah itu cerita demi cerita mengalir lancar. R.A.F. yang lahir tahun 1929 di Banjarsari, Ciamis, sehabis menyelesaikan sekolah memang pernah mondok beberapa lama di sebuah pesantren, dan sepertinya roman semi biografis ini merupakan cerita kenang-kenangan mengenai pengalamannya di pesantren itu.

Tentu saja yang diceritakan R.A.F. bukan hanya sekedar pengalaman romantik pernah tinggal di pesantren. Sejumlah persoalan keagamaan juga terungkap di balik cerita-ceritanya yang lucu. Di sini nampak kepiawaian pengarang dalam menyerap pandangan umum orang-orang kampung terhadap aturan-aturan agama. Dalam cerita Poe Kahiji misalnya, diceritakan bagaimana kagetnya para santri mendengar kiai yang tiba-tiba saja menetapkan hari pertama puasa lebih cepat sehari dibanding kampung-kampung lain, padahal sejumlah santri sudah terlanjur menyiapkan makanan untuk munggahan pada hari itu. Tiba-tiba ada seorang santri yang mengaku masih ingat ucapan kiai, yang mengatakan bahwa tidak puasa diperbolehkan hukumnya apabila sedang berkunjung ke tempat yang belum memulai puasa, asal kunjungan tersebut dilakukan pagi-pagi sekali dan mempunyai alasan yang kuat.

Dengan dasar ucapan sang kiai, pergilah mereka ke kampung tetangga dengan membawa makanan yang sudah disiapkan untuk acara munggahan. Sebelum pergi mereka tidak lupa mengucapkan niat bahwa kepergiannya untuk mengantarkan kitab kepada seseorang di kampung itu. Sebuah alasan yang sangat kuat karena mengantarkan kitab merupakan pekerjaan mulia, dan pekerjaan mulai seyogyanya dilakukan secara bersama-sama. Dan setibanya di kampung tujuan puasa memang belum dimulai, maka dengan gembira mereka melakukan acara munggahan, makan beramai-ramai tanpa merasa telah melakukan dosa. Sorenya barulah mereka pulang kembali ke pesantren sambil senyum-senyum.

Dalam kebanyakan ceritanya R.A.F. kadang memakai istilah-istilah Arab yang umum diucapkan di pesantren, namun sedikit sekali ia mengutip dalil-dalil dari al-Qur’an atau Hadist. Persoalan-persoalan keagamaan justru lebih banyak terungkap lewat obrolan sehari-hari dan perilaku tokoh-tokohnya yang santai, lucu, polos dan nakal. Tema-tema serius mengenai fikih atau tauhid mengalir dengan ringan, terkesan main-main namun tetap menyiratkan makna yang dalam. Begitu juga tema-tema yang berhubungan dengan etika atau moral seperti menjelekan orang lain, berbohong, sombong, malas, dan semacamnya juga tampil menjadi rangkaian lelucon yang segar dan penuh kejutan. Hampir setiap judul atau bagian mempunyai pesan tersendiri dalam bangunan cerita yang jauh dari kesan berkhotbah atau menggurui.

Pengarang lain yang juga banyak menggarap tema kehidupan pesantren adalah Usep Romli H.M. Pengarang ini sudah menerbitkan sejumlah kumpulan cerpen dan novelet seperti Jiad Ajengan, Ceurik Santri, Bentang Pasantren dan Dulag Nalaktak. Pengarang yang lahir di Limbangan, Garut, tahun 1949 ini memang seorang santri yang cukup lama mondok di pesantren. Selain menulis cerpen dan novelet, ia juga menulis sajak yang sudah dikumpulkan dalam beberapa antologi. Meskipun cerita-ceritanya kebanyakan terjadi sekitar tahun 1970-an namun suasana pesantren yang digambarkannya tak jauh berbeda dengan yang pernah digambarkan para pengarang generasi sebelumnya, sebuah pesantren sederhana yang dikelilingi sawah, kolam, gunung dan sungai. Memang demikianlah kondisi pesantren-pesantren tradisional di tatar Sunda, selain selalu mengambil lokasi di daerah pinggiran juga tak banyak melakukan perubahan dari waktu ke waktu.

Usep Romli H.M. banyak menggarap cerita-cerita santai yang menggambarkan romantika pesantren seperti halnya R.A.F, terutama pada novelet Bentang Pasantren, cerpen Ceurik Santri dan Dulag Nalaktak. Namun Usep kadang bergaya serius juga, misalnya pada cerita-cerita yang menunjukkan keprihatinannya terhadap kondisi umat Islam yang terpuruk di tengah perubahan zaman. Namun hampir dalam semua karyanya, baik yang santai maupun bergaya serius, ia sering mengutip dalil-dalil yang berasal dari al-Qur’an dan Hadist. Ia juga kerap memasukkan istilah-istilah bahasa Arab untuk menghidupkan dialog dalam ceritanya. Hal ini tentu dapat dimaklumi mengingat selain pengarang, ia pun dikenal luas sebagai mubalig dan pembimbing jemaah haji. Maka wajarlah jika semangatnya untuk berdakwah lewat sastra terasa sangat kental dibanding pengarang lain, apalagi pada cerita-cerita terbarunya yang dikumpulkan dalam Paguneman Jeung Fir’aun. Dalam buku ini bahkan pengarang dengan gamblang menunjukkan pembelaan dan keberpihakannya terhadap Islam dengan sudut pandang yang nyaris hitam-putih. Usep mengaitkan cerita-ceritanya dengan peristiwa politik seperti intervensi Amerika dan sekutunya terhadap negara-negara Muslim di Timur Tengah, juga tentang kerusuhan rasial dan agama yang terjadi Ambon dan Poso.

Dalam pengamatan saya sementara ini, setelah era R.A.F. dan Usep Romli H.M. rasanya belum ada lagi pengarang Sunda yang cukup kuat dan menonjol dalam menggarap tema-tema kepesantrenan, kalau pun ada mungkin lebih cenderung pada tema-tema keagamaan yang sifatnya formal dan umum saja, bukan tentang Islam yang ada kaitannya dengan masalah budaya. Saya juga mengamati bahwa pengarang-pengaran Sunda sekarang seperti mulai kehilangan sikap kesantaiannya, baik kesantaian sebagai orang Sunda maupun sebagai orang Islam.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

ASAL USUL SUKU SUNDA

Fakta Sejarah Asal Usul Orang (Suku) Sunda Adalah Suku Pendatang

Ditulis oleh Dedi Mulyadi

Banyak pakar yang menyatakan bahwa orang Sunda khususnya dan Indonesia umumnya adalah para pendatang dari daerah Yunan. benarkah itu ? (Ada sebuah fakta yang dapat dianggap dongeng tapi perlu kita cermati dengan seksama).

Di daratan Asia, kira-kira antara Pegunungan Hindukusj dan Pegunungan Himalaya ada sebuah dataran tinggi (plateau) yang bernama Iran-venj, penduduknya disebut bangsa Aria. Mereka menganggap bahwa tanah airnya disebut sebagai Taman Surga, karena kedekatannya dengan alam gaib. Namun, mereka mendapat wangsit dalam Uganya, bahwa suatu ketika bangsa Iran Venj akan hancur, sehingga bangsa Aria ini menyebar ke berbagai daerah. Salah satu gerombolan bangsa Aria yang dikepalai oleh warga Achaemenide menyebut dirinya sebagai bangsa Parsa dan pada akhirnya disebut bangsa Persi dan membangun kota Persi-Polis. Pemimpin Achaemenide bergelar Kurush (orang Yunani menyebut Cyrus).

Dalam perjalanan sejarahnya, mereka membantu bangsa Media yang diserang oleh bangsa Darius. Bahkan bangsa Darius dengan pimpinan Alexander Macedonia pun pada akhirnya menyerang Persi. Dan tak lepas dari itu bangsa Persi, pada jaman Islam pun diserang dan ditaklukkan. Begitu pula oleh Jengis Khan dari Mongol, dan pada akhirnya diserang pula oleh bangsa Tartar yang dikepalai oleh Timur-Leng. Rentang perjalanan sejarah bangsa Persi ini, menyadarkan mereka untuk kembali kepada nama asalnya, yaitu Iran (dari Iran-Venj).

Segerombolan suku bangsa Aria yang menuju arah Selatan, sampailah di tanah Sunda, tepatnya di Pelabuhanratu (sekarang). Para pendatang itu disambut dengan ramah dan terjadi akulturasi budaya di antara mereka, pendatang dan pribumi (Sunda) saling menghormati satu sama lainnya. Proses akulturasi budaya ini dapat kita lihat dalam sistem religi yang diterapkan, Pendatang mengalah dengan keadaan dan situasi serta tatanan yang ada. Batara Tunggal atau Hyang Batara sebagai pusat ‘sesembahan’ orang Sunda tetap menempati tempat yang paling tinggi, sedangkan dewa-dewa yang menjadi ‘sesembahan’ pendatang ditempatkan di bawahnya. Hal itu dapat dilihat dalam stratifikasi sistem ‘sesembahan’ yang ada di daerah Baduy, dikatakan bahwa Batara Tunggal atau Sang Rama mempunyai tujuh putra keresa, lima dewa di antaranya adalah Hindu, yaitu : Batara Guru di Jampang, Batara Iswara (Siwa), Batara Wisnu, Batara Brahma, Batara Kala, Batara Mahadewa (pada akhirnya menjadi Guriang Sakti serta menjelma jadi Sang Manarah atau Ciung Manara), Batara Patanjala (yang dianggap cikal bakal Sunda Baduy). Akulturasi ini, tidak saja dalam lingkup budaya, melainkan dalam perkawinan.

Nun jauh di sana, di Fasifik sana, Bangsa Mauri dilihat secara tipologinya, mereka berkulit kuning (sawo matang), Postur tubuh hampir sama dengan orang Sunda. Nama-nama atau istilah-istilah yang dipergunakan, seperti Dr. Winata (kurang lebih tahun 60-an menjadi kepala Musium di Auckland). Nama ini tidak dibaca Winetou atau winoto tapi Winata . Beliaulah yang memberikan Asumsi dan teori bahwa orang Mauri berasal dari Pelabuhanratu. Hal yang lebih aneh lagi adalah di Selandia Baru tidak terdapat binatang buas, apalagi dengan harimau ‘maung’, tapi ‘sima’ maung dipergunakan sebagai lambang agar musuh-musuh mereka merasa takut.

Memang tidak banyak yang menerangkan bahwa orangIndonesia (Sunda) yang datang ke pulau ini, kecuali tersirat dalam Encyclopedia Americana Vol 22 Hal 335. Bangsa kita selain membawa suatu tatanan ‘tata – subita’ yang lebih tinggi, kebiasaan gotong royong, teknik menenun, juga membawa budaya tulis menulis yang kemudian menjadi “Kohao Rongo-rongo” fungsinya sebagai ‘mnemo-teknik’ (jembatan keledai) untuk mengingat agar tidak ada bait yang terlewat.

Benarkah Parahiangan sebagai Pusat Dunia yang Hilang (Atlantis) ?

Untuk memudahkan menjawab pertanyaan di atas, mari kita buktikan dengan benda-benda hasil karya mereka. Salah satunya adalah Trappenpyramide, yaitu limas bertangga).

Di Jawa Barat (Tatar Sunda), Limas bertangga ini dahulu berfungsi sebagai tempat peribadatan begitu pula bagi orang Pangawinan (Baduy) dan bagi orang Karawang yang masih memegang teguh dalam adat tatali karuhun tidak boleh membangun rumah suhunan lilimasan. Bagi orang Jawa Tengah, menurut Dr. H.J De Graaf ‘hunnebedden’ dengan adanya candi-candi Hindu yang sudah sangat kental percampurannya, sehingga tidak lagi terlihat jati diri Jawa Tengahnya. Sedangkan candi-candi di Jawa Timur bentuk-bentuknya masih kentara keasliannya, karena tempelan budaya luar hanya sebagai aksesoris saja. Yang lebih jelas lagi di Bali, karena keasliannya sangat kentara.

Kembali ke daerah Polynesia, bangunan-bangunan purba ‘trappenpyramide’ tersebar di pulau Paska hingga ke Amerika Selatan yaitu di Peru. Apa ada hubungannya dengan Sunda ?

Salah satu ekspedisi Kontiki – Dr. Heyerdahl, membuktikan dan memunculkan teorinya bahwa hal tersebut di atas merupakan hasil kebudayaan dari manusia putih berkulit merah (sawo matang). Walaupun teori ini banyak dibantah para ahli lainnya, namun dapat kita tarik satu asumsi bahwa manusia putih berkulit merah ini adalah manusia Atlantis yang hilang oleh daya magi.

Pembuktian ekspedisi Kontiki – Dr. Heyerdahl sekarang lebih terungkap itu ada benarnya. Sehingga bila melihat sejarah bahwa keturunan dari Tatar Sunda menyebrang hingga ke Polynesia itu adalah orang-orang Atlantis — yang memang karuhun kita selalu menyembunyikan dalam bentuk simbol — ekspansi kebudayaan dari Tatar Sunda ke daerah Polynesia, yaitu dengan adanya rombongan dari Palabuhanratu, dapat dibuktikan kebenaran-nya.!

Seperti uraian benarkah orang Sunda pendatang atau benarkah Parahiangan pusat Atlantis ? Di sini, silahkan sidang pembaca untuk menilai lebih jeli kebenaran yang ada, karena benar adalah benar ia harus absolut tidak relatif.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment